ADS

News Update
Loading...

Twilight : Breaking Dawn Part 2

Breaking Dawn Part 2




Forever
Tidak hanya hal baik yang harus berakhir, hal buruk pun pada akhirnya harus selesai. Seri Twilight yang berhasil mengubah pola pikir ABG bahwa jatuh cinta dengan seorang vampir dan memiliki manusia-serigala sebagai cadangan adalah hal romantis, akhirnya juga harus tamat. Sama seperti film-film sebelumnya, Breaking Dawn – Part 2 berfungsi sebagai katalis. Di mana bila dari awal penonoton sudah antipati, maka film ini hanya akan menjadi bahan cemoohan selama 2 jam. Namun, bila kita mau memberinya kesempatan sedikit saja dan melupakan fakta bahwa visual effect-nya hanya berada setingkat di atas Indosiar, maka kita bisa merasakan akhir manis dari franchise ini. 

Breaking Dawn – Part 2 melanjutkan cerita langsung dari akhir Breaking Dawn – Part 1, mirip seperti Harry Potter. Bella sudah menjadi vampir, anak Bella sudah lahir, dan Jacob kini telah terikat emosinya dengan anak Bella. Dari sinilah cerita dimulai. Ketika anak Bella menghadirkan ancaman bagi kaum Volturi, semacam DPR-nya vampir (yang sama-sama tidak bergigi – well, not literally. Secara mereka vampir dan kalo gak punya gigi gak bisa isep darah. but,- oke, moving on). Kini keluarga Cullen seperti yang sudah-sudah harus berkorban demi Bella. Dan kali ini lebih besar, karena mereka memanggil semua teman-temannya sesama vampir (yang sepertinya juga adalah hasil tolakan dari X-Men) untuk ikut menyelamatkan Bella dan anaknya dari hukuman Volturi. Tentunya bagi non-pembaca bukunya, akan bertanya-tanya, siapa saja yang selamat di akhir?
Mungkin 2 paragraf saya di atas terkesan terlalu merendahkan, tapi sebenarnya filmnya sendiri tidak seburuk itu. Oke, mungkin first act dari film ini sangatlah buruk. Di mana seperti biasa penuh dengan ke-cheesy-an khas Twilight dan beberapa hal tidak penting lainnya. Mungkin bagian Bella menyesuaikan diri bukanlah tidak penting, but come on, adu panco dengan sesama vampir? Sepertinya saya hanya kurang sreg dengan cara penyampaiannya saja. Belom lagi itu semua dibungkus dengan CGI yang masih saja buruk. (It’s 5 movies now and they still can’t get it right)
Ketika akhirnya konflik dengan Volturi mulai keluar dan keluarga Cullen mulai mencari-cari dukungan, menurut saya, barulah film ini dimulai. Tempo film naik, tidak ada lagi basa-basi, dan semua hal terlihat penting. Hingga akhirnya film ini dihantam dengan pertarungan terbaik sepanjang seri Twilight. Dan saya sadar, bahwa CGI mereka selama ini buruk karena mereka sedang menabung untuk adegan ini. Film ini sendiri ditutup dengan sangat baik. Flashback pertemuan Bella dan Edward dari film pertama hingga akhir. Dibalut oleh A Thousand Years dari Christina Perri dan Steve Kazee, saya yakin bagian ini sangat emosional bagi para Twihard. Hingga credit-nya pun yang menampilkan semua cast baik kecil maupun besar dari Twilight hingga Breaking Dawn. Sebuah ironi bagaimana 30 menit terakhir film ini jauh lebih powerful dari 4 film sebelumnya. Easily one of the best in the series (karena saya suka seri pertamanya, Twilight).
Bagi Anda sendiri yang memang membaca bukunya, jangan takut, karena sutradara Bill Condon bersama dengan penulis skrip Melissa Rosenberg, dan Stephenie Meyer sendiri selaku produser, tahu bagaimana menghadirkan climax yang berbeda dan lebih seru dari buku namun tidak perlu melenceng terlalu jauh. Saya memang nggak baca sih, tapi dari kesaksian adik saya, ending di buku terlalu pasif.
Bagaimana dengan actingnya? Dude, it’s twilight movie, what did you expect?
Source : www.google.com

0 komentar:

Post a Comment

No SARA no SPAM no NITIP LINK !!! Tolong sertakan sumber jika ingin Copy-Paste!!!

 
HELLO!!!
Back to Top